Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

kaidah patah hati

guyuran bisu membahana sunyi anggun nan cantik bak wanita bersolek dengan tawa langkah sunyi menyingkap setiap detik masa anugrah gaib nan suci bila di rasa nirwana yang agung genggam dan sambut setiap rasa bahagia tanpa kata dan hanya sorotan bisu memukul setiap hentakan jiwa yang bersenandung bersenandung pilu namun tak begitu lucu bahagia purnama bila berjumpa malam sahaja permata bila tak hanya tersimpan terhimpit rasa yang bahkan waktu tak berhap merasakannya hanya boleh diam, diam tanpa harus menunggu

Hujan di 25 November

Sedikit sesak dan tersesakkan Ketika... Jiwa jiwa yang ter aku pahlawan di akukan Nada nada yang disatukan tatkala matahari 25 November mulai terbit Menghadap hari yang utuh untuk sang pahlawankan Sedikit sumbing jika Yang agung di anggap nista, entah memang nista Yang terhormat nan tersohor di seluruh jejak negeri teranggap cabul Dan akhirnya apa...??? Koar koar para muda muda yang menghujani 25 November akhirnya terhujani pula "Pahlawanku berulang tahun...???" Sungguh dan sangat erotis Bahkan hujan seolah tau, Kenapa mereka datang berduyun duyun Bersama dan bersatu maju Bahkan hujan seolah tau, Kenapa mereka harus datang Datang menampar setiap resah para muda mudi Memeluk dingin setiap jiwa yang berkobar api Api yang hanya membuat lupa Lupa bahwa pahlawan tak hanya satu Lupa bahwa tak tahunya akan membunuh dunia Lupa akan sosok yang selalu berdoa Lupa akan rasa yang penuh cinta Lupa akan kesedihan atas dirinya... Dan ternyata mereka memang lupa ...

hujan pertama di bulan November

Ada cerita selepas hujan Hari itu hari jumat Tepatnya malam hari Bukan senja seperti hari-hari selanjutnya hujan menyapa Tapi kala itu bersama malam Masih lengkap kukenakan seragam kebanggaan Setelan yang memaksa untuk selalu mengingat Mengingat bahwa akk seorang...  Ah iya, tidak usah ceta Kembali tentang cerita selepas hujan Kucari cari sorotan sayu didalam dingin Dingin menusuk karna kala itu kubiarkan air hujan memelukku Mata yang beberapa hari redup, Entah karna mendung apa Sebentar, aku sedikit lupa...

Sajak Pemuda

Maaf sebelumnya, kami bahagia Kujumpai roda memang beputar pada semestinya Berputar dengan janji kehidupan yang tergenggam Rata kanan dan kiri Berjalan seraya atas dan bawah mulai tersabit Busuk bangkai dan wangi rose Membawa pada dasar sesungguhnya Kelabang, kalajengking menyusuri lorong yang terang benerang terang benderang emas permata dan kemunafikan Roda berputar dengan janji yang tergenggam Tong sampah jadi saksi busuknya Dimana mereka membuang sampah kebajikan Manipulasi daun dan perabotan Guncangkan TPA dengan sampah tak terduga Roda berputar dengan janji yang tergenggam Hitam Bukan... Putih... Bukan pula Roda Berputar... ting ting ting Waktu kembali memanggil *berputarlah Kudus, 03/07/2015 21:56

Masa Antara Masa

Gambar
18 tahun telah berjalan dan kini sudah hampir menapaki di tahun ke 19, syukur Alhamdulillah banget buat kenikmatan yang diberikanNya selama ini, sunggun terimakasih tuhan tahun –tahun yang berarti banget. Yapzz… sangat berarti, 18 tahun kehidupanku yang terasa sangat istimewa, kenangan-kenangan mulai terangkai sejak saya keluar pertama kali dari rahim ibu tercinta saya heheheh… (miss you mom ({}) ) keluarga pertama saya, mereka orang-orang terbaik dan terkasih Pantai Klayar Pacitan    Bicara tentang keluarga, di tahun yang ke 18 ini saya mendapatkan kembali lagi keluarga baru setelah saya pindah ke Kudus untuk melanjutkan study saya.   yapz… keluarga baru, tepatnya keluarga ketiga, yaitu Teater Tigakoma (bisa di akses di www.3komateater.blogspot.com ) hehehe… kenapa Tigakoma..??? kenapa Keluarga..??? kenapa bisa teater..??? kenapa bisa tigakoma..??? haduh… pertanyaan yang membingungkan sekali. Tapi yang pasti saya mendapatkan keluarga baru disana, di Teat...

Tidak Begitu Jelas

  Pagi ini bercerita tentang pagi, yah... pagi...   Senyap masih menyapa di ujung peraduan. Hanya kicauan kicaun yang sedikit tabu terdengar bising tapi nyaring. Serangga mungkin... Teruntuk pagi, Sungguh terimakasih Datangmu yang kunanti malam tadi, Namun adamu kini tak begitu kuharapkan lagi Gundukan gundukan kenistaan runtuh sekejap Runtuh malam ini Sorak sorai menggema Kian hancurkan malam kala tadi, Tapi siapa yang tahu...??? Serangga atokah kami Tik...tok. Kudusku, 25 Oktober 2015

sang sak

A Memandang sebuah arti senyuman, Bila waktu, bila dan bila Ada gemericik nyaring dalam peraduan Membawa setiap awan yang menggumpal Gemuruh badai dilautan bernyanyi Menanda bahwa malam tak begitu baik Air tak beriak Hanya saling menggulung Mengumpat dan semakin beradu dengan badai Pohon kelapa tak riang, tak juga sendu Karang-karang bertaburan kesana kemari Kadang bersembunyi Terbuang lalu dikais kembali,  Kudus, September 2015