Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Kodok Bernyanyi

|| Suatu malam aku bercerita dengan sejumlah luka yang lama aku simpan sedari dulu, ia tak berbicara apa apa padaku dan hanya diam memandangiku yang sedang bercerita. Sampai pada saat aku mulai menitihkan air mata untuk yang kesekian kalinya, awalnya ia ragu untuk sekedar menunjukkan ekspresi khawatir padaku, karna ia pun tahu bahwa diriku tak pernah suka dan akan semakin sedih jika aku tau bahwasanya ia menanggapi kesedihanku.  || Malam itu berawal dari beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada 9 tahun yang lalu kira-kira 106 bulan yang lalu atau kalau tidak 430 minggu yang lalu, kalau tidak salah. Senja yang sempurna seharusnya, karna seperti biasa jingga pada langit di sudut desaku terlihat sangat hangat, hangat sekali dan teramat hangat hingga aku pun tak mengetahui bahwa akan hadir sebuah warna dan cerita lain di senja itu, ya... senja yang sempurna. Suara percakapan ringan terdengar sayup-sayup dari balik dinding kayu rumah kecil yang berukuran tak lebih dari 10  x 6 m...

Menyapa Senja

Kembali akk menyapa senja kali ini, tak terlalu jingga kawan. Indah biasanya terkadang membuatku lupa, bahwa ia pun memiliki rasa. Pada langit yang tak terukur ia terkadang singgah dengan guratan yang bahkan tak pernah bisa ku utarakan. Tapi tidak kali iniMungkin ia belum hendak beranjak naik ke atas samudra yang luas membentang. Mungkin ia masih sendu, melihat sang jiwa yang masih kokoh untuk menjaga raga. Mungkin ia muak, pun dengan kedatangannnya sendiri pada langit langit yang tak hanya menjadikan ia sebagai satunya warna. Mungkin ia lelah, saat semuanya menunggu dengan singkat dan ia harus menunggu lama. Mungkin ia marah, karna terkadang langit ingkar dan lebih memilih mendung dan kelabu. Mungkin ia rindu, namun malu. Mungkin ia bisu, karna memang tak ada waktu untuk patahan katanya. Mungkin ia terlambat... ya, terlambat.