Kodok Bernyanyi
|| Suatu malam aku bercerita dengan sejumlah luka yang lama aku simpan sedari dulu, ia tak berbicara apa apa padaku dan hanya diam memandangiku yang sedang bercerita. Sampai pada saat aku mulai menitihkan air mata untuk yang kesekian kalinya, awalnya ia ragu untuk sekedar menunjukkan ekspresi khawatir padaku, karna ia pun tahu bahwa diriku tak pernah suka dan akan semakin sedih jika aku tau bahwasanya ia menanggapi kesedihanku.
|| Malam itu berawal dari beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada 9 tahun yang lalu kira-kira 106 bulan yang lalu atau kalau tidak 430 minggu yang lalu, kalau tidak salah. Senja yang sempurna seharusnya, karna seperti biasa jingga pada langit di sudut desaku terlihat sangat hangat, hangat sekali dan teramat hangat hingga aku pun tak mengetahui bahwa akan hadir sebuah warna dan cerita lain di senja itu, ya... senja yang sempurna. Suara percakapan ringan terdengar sayup-sayup dari balik dinding kayu rumah kecil yang berukuran tak lebih dari 10 x 6 m ini, tapi entah mengapa lama kelamaan percakpan itu berbah menjadi percekcokan yang panjang, dari nada rendah kenada tinggi, panjang dengan hentakan sebagai amarah yang meluap dan bahkan dengan tangisan dan rintihan. saling berkoar satu sama lain, seolah merka tak mau kalah seperti halnya dalam persidangan yang memutuskan kelanjutan nyawa seseorang,. Pihak A berkata..... " trakoakoakaoanjiuybabguyys " kurang lebih artinya bahwa ia sama sekali tak bersalah dan selalu mengelak bahwa tuduhan pihak B tak pernah dilakukannya sama sekali, pihak B pun tak mau kalah dalam melontarkan argumennya.... (seperti debat kusir mungkin untuk istilahnya). dan parahnya lagi, percekcokan yang menggebu-ebu itu semakin mengundang banyak perhatian pihak yang merasa bersangkutan dengan keduanya. pihak B mulai menangis, dan pihak A semakin mengoar - ngoarkan pendapatnya.
|| Senja yang sempurna hancur seketika, butiran butiran air mulai berjatuhan dari langit seolah langit merestui percecokan itu dan semakin membuat suasana menjadi semakin syahdu tanpa mengingat rindu. Senjaku yang indah dengan jingga yang hangat hancur seketika. Diriku terlalu polos dan terlalu bodoh untuk mendekat dalam keadaan itu, dinding kayu kamar yang dasarnya sempit semakin menekanku dalam kebingungan, alam yang tak pernah aku harapkan sebelumnya dan itu terjadi saat itu juga. Harapan lamaku untuk hidup tenang kembali seperti kalanya bagaimana orang desa hidup mulai hilang. Butiran yang datang satu persatu kini menjadi ribuan dan jatuh bersamaan, dan hujan sangat deras...
|| Tenang bukan berarti hilang, dan sepi bukan berarti usai. Kutarik nafas sedalam mungkin dan aku mulai berdiri,, kucoba hadapi bagaiamana semestinya aku menerima kehidupan ini, dengan langkah berhati-hati kudekati mereka yang awalnya hanya dua pihak kini berubah menjadi 3 atau 4 ataukah 6? aku lupa dan terlalu takut untuk mengingatnya lebih jauh. tak ada yang tau bagaimana perasaan kami, ya kami... ada seorang lagi yang merasakan kegusaran yang sama denganku, orang lain yang saat itu juga tak berada jauh dari tempat itu, ia hanya diam dan terpatung, karna hidupnya masih terlalu dini untuk memahami semua itu, yang ia tau bahwa ada suara keras, hentakan amarah tangisan dan dan perasaan lain yang juga ikut teracacar disana. Semakin ku percepat langkahku mendekati mereka. Namun... langkah kakiku kembali terhenti, seolah ada ngilu yang sangat dalam dalam hati ini, kerasnya suara itu seolah petir dengan kilatnya yang sangat panjang baru saja menyambar pohon kelapa yang kemudian hancur berkeping keping, meninggalkan abu dan bongkahan luka pada sang kelapa. Tak kuasa aku kembali berbalik dan ku jumpai lagi wajah orang lain yang tak jauh dariku mulai meringkuk dibalik korden rumahku. aku berlari dan berlari sekuat tenaga, dan aku sadar... aku tak berpindah sejengkal pun dari tempat aku berdiri, hanya persaanku yang kian aku larikan dengan kencang, agar ia baik-baik saja, agar ia tak mnegetahui semua in, agar ia tetap sadar bahwa senja kali ini tetap hangat, agar ia tau bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi, agar ia tau... bahwa tak semua orang bisa setegar ia, karna hanya dirinya yang bertahan dengan jingganya yang hangat di tengah badai hujan di gurun Sahara.|| Senja berlalu dan hujan tetap tenang dilangit, bergantilah malam datang. Ibu datang membawakan sepiring ketela madu yang sudah direbus, dan bapak mulai bercerita tentang bagaimana kancil bisa pulang saat terjebak hujan di dalam sumur yang dalam. Saat bapak bercerita ibu memotong dengan guyonannya " duh nduk nduk..... wong denger kodok nyanyi paduan suara aja kok nangis" semuanya pun memandang kearahku dan gelak tawa mulai membahana, aku hanya diam.
Dari situlah aku mulai berjumpa dengan luka, yang kali ini berada disisiku... menemaniku menghadapi senja yang hangat untuk kesekian kalinya. Senja yang hangat..... benar-benar hangat.
#jangandipercaya
#kudus160816
Komentar
Posting Komentar