Review “Roti’O” , Stasiun Poncol Semarang


Perjalanan yang panjang, genap terhitung tiga hari dari awal keberangkatan kami menuju kota
Semarang, kota bintang. Minggu yang cerah, setelah usai hujan pada malam hari mengguyur rata kota ini esok harinya matahari bersinar cerah, sinarnya membias masuk melalui kaca kaca jendela dimana daku merebahkan lelah setelah seharian batin dan jasmani seolah diajak berlari marathon karna jadwal ujian kunjung pada waktunya. Tapi satu, Alhamdulillah daku diberikan kesempatan untuk sampai pada titik itu, sungguh terima kasih ya Allah, 10 Novemver 2018. Berjumpa dengan teman-teman lama, berbincang dengan masa-masa lampau dan guyonan masa depan, hingga berpacu dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang bikin hati dag dig dug, hahahhaha, namun aku nyaman, terima kasih sudah memberiku ruang itu. Daku pun tau semestinya aku tak perlu memikirkannya, karna itu hanya menghambat kebahagiaan, menghambat tawa, menghambat matahari ½ lingkaran itu melengkung sempurna, seperti senyum. :-D.
            Sore itu kami, daku dan temanku, sebut saja namanya mawar, wkwkkwkwwk. Apaan si, bukan bukan, namanya mbak Ika, salah satu kakak tingkat waktu aku bersekolah MTs dahulu, berencana untuk pulang kembali ke kampong halaman. Hari yang sangat panas, namun menjelang sore kabut-kabut hitam pertanda mendung mulai berdatangan, jika aku berdiri didepan stasiun kereta api poncol dan tepat menghadap pada lubangan dengan air didalamnya, dengan deretan bangunan-bangunan tua di sebrang lubangan air yang  ketika malam banyak sekali angkringan pada tepi tepiannya, pernah suatu ketika, ketika malam, kisaran pukul 11.00 aku sampai disana, kulihat banyak orang sedang benyanyi dan berjoget bersama di ujung tepian lubangan air itu, ahhh, sepertinya mereka sedang bersenang-senang, hehehehhe
“ Sayang, opo kue krungu, jerite atiku berharap engkau kembali, sayang, nganti memutih rambutku ra bakal luntur tresnaku” hahahha, begitulah salah satu lirik lagu yang kuingat. Salah satu lagu dangdut yang sedang buming di tahun 2018 an ini.
Kembali lagi, pada sudut-sudut langit kota Semarang menuju arah depan tempat aku berdiri sudah terlihat awan-awan mendung mulai bergerompol, seketika meredupkan sebagian wilayah kota Semarang. Rasa was-was kembali muncul, teringat pesan emak yang mana kau harus segera pulang sore ini.
Namun bagaimana lagi, rasa lapar tiba tiba melanda, jika kuingat sejak 2 atau 3 jam sebelumnya mungkin. Kuputuskan untuk singgah di depan stasiun kereta api Poncol Semarang,  kuingat celotehan temanku dulu terdapat roti yang sangat enak di stasiun ini. Sebelum sampai tempat tujuan, mbak ika sudah kuminta melihat terlebih dahulu apakah toko roti yang kumaksud buka ataupun tidak, dan alhasil, yahhhh….. tokonya buka. Tanpa kuparkir rapi sepeda motorku, kuputuskan untuk memasuki stasiun dengan berjalan kaki, berharap aku menemukan apa yang kita cari untuk mengganjal perut. Kutelusuri jalan yang ramai akan orang-orang yang sedang mengurus keperluan perjalanan mereka, terdengar suara khas hari pengeras suara di setiap stasion, “penumpang jurusan…….. agar segera bersiap-siap, kereta api jurursan ….. akan segera berangkat” yah begitulah kira-kira, tak terlalu ingat betul apa yang dikatakan mbak-mbak dalam spiker itu, namun aku suka, suka stasiun ini. Karna……. Lupain aja deh heheheh. Bangunan dalam stasiun ini bagus, terlihat dalam negri dongen, batinku. Atapnya tinggi, bentuk dinding-dindingnya dibuat seolah dalam dunia kartun, dan terbilang corak klasik menurutku, kalo menurut dari www.wikipedia.com nama arsiteknya itu berjenis ART DECO. Oh ya, stasiun ini terletak di jalan Pandanaran, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Toko yang sangat minimalis, seorang kasir perempuan dengan stellan celemek dan kerudung berwarna kuning, di padu padankan dengan kaos berwarna hitam. Terlihat ramah, dan sabar meladeni setiap pengunjung yang dating. Di dalam took terlihat banyak sekali oven berjejeran, tidak tahu pasti ada berapa saja oven yang tersedia, yang aku tau, setiap roti yang dibeli keluar langsung dari oven, kalian tau ? aromanya sangat harum, wangi khas roti yang sedang di oven dan dikeluakan dari oven. Ahhhhhhh buat meleleh hati saja, sudah tak sabar aku untuk segera memakannya. Kalo menurut dari sumber yang pernah aku baca di web www.rotio.id dituliskan “Roti’O menyediakan roti dengan topping cream coffe dan butter di dalam yang disajikan selalu dalam keadaan hangat”, emang bener banget, kufikir memang itu yang menjadi salah satu ciri khas Roti’O ini, disajikan dalam keadaan hangat. Jarang banget kan kita bisa ketemu roti kek gini, yah, kalau ndak buat sendiri si. Hehehehhehe.
Selain menjual roti jenis Signature Coffe Bun ini, Roti’O juga menjual beberapa jenis minuman dan juga Pastry and Cookies. Buat tau gimana rasanya langsung aja deh nanti cari ke stasiun terdekat rumah kalin, hehehhe, kalo dari rumahku si jauh, stasiun terdeket juga adanya di Semarang. Di Indonesia Roti’O sudah memiliki cabang diberbagai kota, yang pada saat ini tersebar ke 13 provinsi diantara lain ada di Jawa tengah, jawa Timur, Jawa Barat, Bali & Lombok, Jakarta, Sumatara dll. 
Kuterima dua bungkus roti’O dengan wadah yang berbeda, satu untuku dan satu untuk mbak Ika yang sedang menunggukusambil menjaga sepeda motor. Wadah berbahan kertas (namun bukan kertas HVS lo ya, kurang tau apa aku jenis kertasnya) berwana kuning, terdapat gambar seorang kakek tua dengan pakaian khas seorang koki sedang membawa pirirng dengan sebuah roti diatasnya. Terlihat minimalis dan eksklusif, menurutku. Walaupun dengan harga yang menurutku tidak biasa (biasalah kantong mahasiswa yang baru diwisuda dan masih menganggur ini), namun rasa dari Roti’O ini mampu membuat leleh dimulut, entah bagaimana proses pembuatannya, tapi sungguh, ketika kalian makan pada gigitan pertama kalian  seolah akan dibawa melayang, duhhh,,, rasanya bahagia banget gitu lo, tekstur dalamnya lembut, namun kulit luarnya terlihat kasar, walaupun begitu jika kalian tau rasanya, sungguh, terasa banget kopinya, dan rasanya itu ndak hanya pada gigitan pertama, samapi digigitan terakhir kita bakal dibuat penasaran, “ini roti bahannya apa sih” “buatnya gimana sih” “duh kok bikin nagih ya,” a”ah pengen beli lagi tapi uang nipis”. Duh, ndak bisa deh kalo aku diminta ngejelasin lewat tulisan gimana rasanya itu roti.
Sore yang awalnya mendung seolah terlihat lebih indah, manis manis gurih gimana gitu. Kayak Roti”O. :-D . oh ya perkenalkan, ini namanya mbak ika, yang aku ceritakan tadi. 
Kami melanjutkan perjalanan, sedikit macet terjadi di jalan lingkar Semarang-Demak. Butuh kesabaran ekstra kalo udah kek gini. Alhamdulillah kita sampai di tanah kelahiran sekitar pukul 18.00, aku berpisah dengan mbak Ika dan melanjutkan untuk perjalanan pulang ke rumah. Hujan tak jadi turun malam itu, bulan pun bersinar, bentuknya sabit, kek orang senyum, kek matahari ½ lingakaran. Heheheheheh, am udah ya ceritanya, nanti aku cerita lagi pas perjalanan beli makanan apa aja.
“Kapan-kapan, naik kereta yuk, sambil makan Roti’O” misalnya ada yang ngajakin gitu. Hahahhahah, oke, see you next time……..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Catatan Harian"

tralalalalalla