Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

#3

langit bercampur mendung, hinga sore beranjak datang. namun, kudengar dari bisik cerita kawanku senja di ujung kudus terlihat cantik memepesona, senja tercantik, katanya dengan binaran kedua bola matanya. Satu kota yang kuharap sama dimana sudutnya menenangkan langitnya yang diceritakan mendung sepanjang hari semoga cantik seperti senja di kota rantauku semoga langkah entah mimpinya terindahkan karna bisik gerimis hujan slalu mengalun merdu tak terelakan semoga rel kereta api di sepanjang piggiran jalan kotanya, berirama. seperti gesekan biola yang nyaman. Simpan hatinya dengan ketenangan Tuhan, rengkuh mimpinya dengan senyuman. karna milikMu seutuhnya semua rindu ini. 

#2

Tenggelam sunyi disini . . . Terhempas letih menantimu . . . Aku berdiri dalam dimensi Ruang yang sepi raga menanti Batin tersiksa asa meronta Hasrat dan cinta takkan binasa Saat aku ada dalam ruang hampa dan tenggelam Sunyi yang bernyawa . . . Dari gelap malam hening tercipta resahkan rasa Jiwa yang menyiksa . . . Air mata lepas memburamkan seribu harapan Cinta tak bermakna . . . Aku berdiri dalam dimensi ruang yang sepi raga menanti Batin tersiksa asa meronta hasrat dan cinta takkan binasa Rasa yang telah lama tersimpan dalam relungku ini Takan tenggelam 30/08/2014 Kajen

#1

Jika malam menggugat cerai pada sang pagi Sudahkah mereka menikah ? bahkan tiada perjumpaan pasti Hanya silih berganti dan beriring berlalu Bisik tetangga itu tabu mengembang mengempis bersorak kosong karna pergunjingan tak perlu persetujuan jalan. Kudus November, 2016

Cukup Aku

cukup aku yang tau, bahwa malam yang turunkan hujan malah berikan kehangatan cukup aku yang tau, barisan dedauan di sepanjang jalanku jalanmu tertawa riang cukup aku yang tau, lampu malam itu begitu indah 1001 x lebih indah di hatiku cukup aku yang tau, bahwa aku berdoa untuk kelapangan fikirmu cukup aku yang tau, bahwa A-Z bukan sekedar abjad biasa Cukup aku yang tau,

am,

siapa yang tahu malam ini, aku mulai percaya cinta, kembali,

Kodok Bernyanyi

|| Suatu malam aku bercerita dengan sejumlah luka yang lama aku simpan sedari dulu, ia tak berbicara apa apa padaku dan hanya diam memandangiku yang sedang bercerita. Sampai pada saat aku mulai menitihkan air mata untuk yang kesekian kalinya, awalnya ia ragu untuk sekedar menunjukkan ekspresi khawatir padaku, karna ia pun tahu bahwa diriku tak pernah suka dan akan semakin sedih jika aku tau bahwasanya ia menanggapi kesedihanku.  || Malam itu berawal dari beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada 9 tahun yang lalu kira-kira 106 bulan yang lalu atau kalau tidak 430 minggu yang lalu, kalau tidak salah. Senja yang sempurna seharusnya, karna seperti biasa jingga pada langit di sudut desaku terlihat sangat hangat, hangat sekali dan teramat hangat hingga aku pun tak mengetahui bahwa akan hadir sebuah warna dan cerita lain di senja itu, ya... senja yang sempurna. Suara percakapan ringan terdengar sayup-sayup dari balik dinding kayu rumah kecil yang berukuran tak lebih dari 10  x 6 m...

Menyapa Senja

Kembali akk menyapa senja kali ini, tak terlalu jingga kawan. Indah biasanya terkadang membuatku lupa, bahwa ia pun memiliki rasa. Pada langit yang tak terukur ia terkadang singgah dengan guratan yang bahkan tak pernah bisa ku utarakan. Tapi tidak kali iniMungkin ia belum hendak beranjak naik ke atas samudra yang luas membentang. Mungkin ia masih sendu, melihat sang jiwa yang masih kokoh untuk menjaga raga. Mungkin ia muak, pun dengan kedatangannnya sendiri pada langit langit yang tak hanya menjadikan ia sebagai satunya warna. Mungkin ia lelah, saat semuanya menunggu dengan singkat dan ia harus menunggu lama. Mungkin ia marah, karna terkadang langit ingkar dan lebih memilih mendung dan kelabu. Mungkin ia rindu, namun malu. Mungkin ia bisu, karna memang tak ada waktu untuk patahan katanya. Mungkin ia terlambat... ya, terlambat.

UANG

Uang . . Entah seindah apa wujudmu Menggeliat di setiap ulu panca rasa Menusuk jeruji besi yang kokoh berdiri Hingga langit dan bumi pun akan tertembus karena mu Buaian kasih mu awang . . . Tenangkan jiwa yang sempat lara Kembalikan senyum sumringah anak jalanan Hangatkan jiwa akan dinginnya kehidupan Tapi . . . Apalah itu benar kau ? Di kala buruh terlantar mati karena mu Ketika mimpi terhenti bergantung jatuh karena harap palsu mu Dan kala cinta tak lagi bisa menyapa karena mu Haruskah aku tetap di jalan lurus-Nya ? Kala uang meninggalkan ku Kenapa harus kau ?? Uang. #2014, KUDUS

G I L A

Tempat apa aku berdiri di sini Mengapa aku di tempat ini Cakapmu bagai anjing yang menggonggong Lakumu tak ubahnya debu yang tak pasti Merasakan kekosongan bisu Dimana bangkai adalah nikmat Dimana hujan adalah batu Dan dimana panas adalah kosong Langkah kakiku tak jadi anti Membangun semak bak istana Hingga iblis pun hanyalah lewat Dimana aku kini ? Apakah arti kekosongan ini ? Hahahaha             Aku tidak gila Pakaian lusuh ini adalah jas ku Daun – daun itu adalah harta ku Dan anjing – anjing itu adalah budak ku             Gila Kalian gila menatap ku Mengacuhkan jiwa yang suci Meremehkan dan membuang ku seperti sampah Hahahaha             Aku gila. 2014, Kudus

Karna Malu

Dengar aku, Bukan karna waktu, keadaan dan bahkan teman Hanya saja semua KARNAKU Bukan karna luputnya waktu untuk menjalankan Bukan karna sibuknya keadaan yang memojokkan Dan bukan karna teman yang tak kunjung mengingatkan Kenapa aku berdiri?? Karna aku malu !! Menghadap padaMu yang suci Mu yang agung Mu yang slalu tau. 

Pagi Bersama Hujan

Rinduku pada hujan kini usai tersampaikan Disepanjang jalan taman kaki ini berlari kecil Berjalan ke depan dan di atas ada langit yang kelabu Pertandakan akan ada tamu Untuk jumpaku padamu Sejuk murni udara pagi Hijau yang asri segarkan nurani Berharap legakan hati yg lara dan mati Hidup kembali untuk sebuah mimpi Merasakan tetesan air mulai Membasahi jalanan beraspal Menghentikan langkahku untuk sekejap menoleh keatas Tanganku menengadah Menanti butiran" itu jatuh, meluncur dan singgah Sebutir, dua butir tiga butir dan... Akupun basah Menariku dalam riuhnya tamu yang datang Kaki terhentak Badan nergoyang Tangan mulai berayun keatas dan kebawah Kepala tergeleng" Bummmm... Hati ini tertawa Riang seperti mendapat hadiah natal Memuja yg Esa untuk nikmatNya.. A hujan... Kenapa ??,

G E J O L A K

Gambar
rindu kenang untuk terkenang Bisumu terlalu beku kawan Senyummu yang mulai redup kian datangkan gemuruh Jadikan duniaku, dunia mereka layu Merindu akan hangat senyuman Datang,   lampion kecil Dari kerangka yang tak sempurna Masih bersinar namun redup dalam keistimewaan Menjerit agar duyung dilautan bernyanyi Burung dihutan berkicau Dan kau kembali berdiri Melepas duri yang mengkebiri Disudut gedung yang menjulang Dibawah pohon yang rindang, Bersemi hijau, Deretan semut merindu tawa Lelah melihat manisan-manisan yang terhumbar Kering dalam hijaunya dedaunan Pasrah untuk saling menunggu Menebar sapa setiap jengkal harap Dan meninggalkan satu ruang Ruang baca, Ruang bacamu kawan.