Menerjemahkan Senja

Entahlah, entah bagaimana caranya aku bisa menerjemahkan senja
Ketika yang kulihat hanya sebuah simponi.
Lampu yang mati, taburan bintang di beranda depan rumah simbah dan se ember singkong gula merah.
Hemmnnn.,., terasa nyummi.
Dan bagaimana lagi aku harus menerjemahkan senja...??
Jika yang kuingat hanya Serenteng mie gelas yang kami rebutkan ditengah kegelapan beranda dengan lampu uplik.

Tikar berjajar, tawa terhumbar di beranda depan dan akk masih merasa hangat itu. Hangat tawa sosok tersayang.
Senja yang slalu berbeda,
Senja yang rumit,
Senja yang haru,
Senja yang tak berhari,
Senja yang tak berlorong,
Senja yang bisu,
Senja yang ganjal,
Senja yang rindu,
Senja yang berlorong,  Menerjemahkan senja,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review “Roti’O” , Stasiun Poncol Semarang

"Catatan Harian"

tralalalalalla